Oleh: Herman Wahyudi*)
Nongkrong merupakan salah satu kebiasaan yang bisa dibilang sudah menjadi tradisi di Yogyakarta. Saat ini, hampir di seluruh sudut kota Yogyakarta di penuhi oleh puluhan bahkan ratusan tempat nongkrong yang tersebar di beberapa tempat seperti pinggiran Kali Code, sebelah utara Stasiun Tugu dan sejumlah warung kopi atau kedai yang bertebaran di pinggir-pinggir jalan.
Secara historis, tempat-tempat nongkrong di Yogyakarta konon sudah ada sejak Tahun 1960-an. Salah satu tempat populer yang biasanya menjadi pilihan pada waktu itu adalah terletak di sepanjang Jl. Malioboro –sebelum dijadikan areal pusat kegiatan bisnis dan wisata. Bahkan pada tahun 1980-an, seperti dikutip oleh majalah Sinergia edisi April-Mei 2009 di Yogyakarta sudah ada dua kelompok studi besar, yakni kelompok studi Talakan yang di motori oleh Guenardi Kornel Kosmos dan Edi Nugroho, Limted Group dan kelompok Teknosofi yang kesemuanya itu lahir dari inspirasi kolektif (inspirasi yang lahir dari basis kebersamaan) dari sebuah lesehan bernama tempat nongkrong.
Dari tradisi nongkrong pula, tokoh-tokoh intelektual terkemuka dan seniman besar seperti – diantaranya – Emha Ainun Najib atau yang akrab disapa Cak Nun, dan H.A. Mukti Ali dilahirkan. Sederhana namun penuh inspirasi. Itulah kiranya kalimat yang pas untuk menggambarkan betapa tradisi nongkrong ini memang cukup memiliki arti penting dalam memberikan nuansa hidup serta pengaruh bagi siapa saja yang gemar nongkrong. Positif dan tidaknya pengaruh tersebut sudah barang tentu tergantung sejauh mana para penikmat nongkrong mampu memposisikan kebiasaan nongkrong tersebut pada posisi yang tepat berdasarkan asas manfa’at dan mudharat –bukan sebatas mencari kesenangan.
Tidak seperti pada zaman-zaman dahulu yang serba sederhana, dewasa ini, di beberapa tempat nongkrong sudah banyak yang menyediakan fasilitas serba lengkap – untuk ukuran nongkrong– termasuk hotspot area (baca; fasilitas internetan). Suatu kenyataan yang tentunya sejalan dengan semakin majunya peradaban dunia dibidang teknologi informasi. Dengan hanya secangkir kopi, fasilitas hotspotpun bisa dimanfaatkan oleh para pengunjung. Dan pengunjung dapat mengakses apapun yang diinginkan. Namun hal tersebut bukan berarti telah menghilangkan seutuhnya ke-tradisional-an tempat nongkrong, karena tidak sedikit pula warung, kedai ataupun lesehan tempat nongkrong yang masih belum hijrah dari nuansa-nuansa tradisionalnya. Terutama yang terletak ditempat-tempat nongkrong yang biasanya di gelar secara lesehan, seperti di pinggiran Kali Code, sebelah utara Tugu, dan sebagainya, sekalipun suasana bising dunia modern tetap saja tak terbantahkan.
Ditengah semakin lengkapnya fasilitas-fasilitas yang ditawarkan oleh tempat-tempat nongkrong di Yogyakarta itu, sudah pasti hal tersebut menjadi nilai plus dari pada nongkrong. Namun, melebihi segalanya, kebersamaan dan rasa persaudaraan antar sesama adalah tetap menjadi suatu nilai utama yang tidak bisa ditukar dengan apapun. Karena dari kebersamaan lah suatu kekuatan besar yang bersumber lewat inspirasi kolektif bisa muncul. Sebuah maha karya bisa saja lahir dari tempat-tempat nongkrong. Jika tempat-tempat nongkrong zaman dahulu saja yang serba sederhana mampu melahirkan sosok seperti Cak Nun. Bukanlah suatu hal mustahil jika pada saat sekarang –yang serba lengkap– tempat-tempat nogkrong beberapa (puluh) tahun kedepan akan melahirkan Cak Nun-Cak Nun lain dalam jumlah yang lebih fantastis.
Dengan catatan, sebisa mungkin para penikmat nongkrong menjadikan tempat-tempat nongkrong sebagai ruang pendidikan kolektif disamping juga kebersamaan dan persaudaraan. Agar aktifitas nongkrong menjadi lebih “bertenaga”. Dengan kata lain, menumbuhkembangkan kembali yang esensi dari pada aktifitas nongkrong yakni NDP (Nongkrong, Diskusi, dan Pencerahan atau inspirasi). Bukan sekedar duduk-ngopi namun tanpa melakukan suatu kegiatan yang berarti. Karena haI tersebut sama saja dengan menghambur-hamburkan uang ala kaum hedonis. Itulah yang penulis sebut dengan istilah “posisi yang tepat” tadi.
*)Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga, Pimpinan Redaksi Majalah "SINERGIA" dan Koordinator umum LKSY.
Countaq person penulis: 087850268719/bungshu_89@yahoo.co.id
Tidak ada komentar:
Posting Komentar