Oleh: Herman Wahyudi
(Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISHUM UIN Yogyakarta)
Beberapa bulan terakhir orgaisasi pemuda Persatuan Pemuda Gersik Putih (PPGP) terlihat dinamis. Sejak kemuculannya, meskipun sedikit kotroversial, PPGP bisa dikatakan cukup agregat dalam memperjuangkan hak hak masyarakat Gersik Putih yang di rampas (katakanlah begitu) oleh para penguasa. Inilah yang mungkin patut kita acungi jempol dari PPGP
Pada perkembangannya, PPGP pun mulai merancang agenda-agenda perjuangan untuk masyarakat dengan (terlebih dahulu) mengupayakan legalisasi sebagai organisasi pemuda. Bahkan dalam celoteh sebagian pemuda PPGP; "PPGP jadi LSM saja," sungguh, merupakan bentuk aktualisasi pemuda gersik putih yang (lagi-lagi) patut kita acungi jempol. Hingga sekarang AD/ART PPGP termasuk lambang sudah dibuat sekalipun masih dalam bentuk yang belum sempurna. Pertnyaannya, siapkah PPGP dengan langkah yang satu ini? menjadikan PPGP sebagai organisasi yang punya legalitas sebagai organisasi pemuda yang mapan? atau jangan-jangan, ini tak ubahnya semangat pemuda yang hanya terjadi pada -meminjam bahasam tokoh kaum kapitalis Gersik Putih, Baim Oizumi- ledakan sesaat?
Pemuda memang cukup luar biasa dimata masyarakat, sejarah membuktikan itu. Bahkan dari saking istimewanya sosok pemuda, Proklamator sekaligus Presiden pertama RI, Ir Soekarno dengan pe-denya menagatakan, "beri aku sepuluh orang pemuda, akan ku guncang dunia." Lihatlah, dengan sepuluh orang pemuda saja dunia akan diguncang -sekalipun memang bahasa ini terlalu hiperbolis. Ini spirit idealisme yang harus diambil oleh kalangan pemuda. Maka lantanglah penulis berkata: "Beri aku semua pemuda Gersik Putih, Maka Gersik Putih sungguh akan terguncang."
Tapi ingatlah, bahwa yang dimaksud oleh Soekarno itu bukanlah "sembarang pemuda". Tapi pemuda yang "berani", visioner, dan punya landasan idealisme yang kuat. Diakui atau tidak, kapitalisme, hedonisme dan isme-isme yang lain sesungguhya muncul dan memawabah karena idealisme sudah menjadi barang mahal. Berani saja tidak cukup, berani ibarat kita berlayar tanpa kemudi. Hanya akan berputar-putar ditengah keberanian yang kita ciptakan. Ketika angin kapitalisme datang, kita akan dengan terpaksa tidak punya pilihan kecuali menerima terjangan angin tersebut. Maka, masihkah pemuda hanya berpacu dengan romantisme keberanian? Innalillah pemuda...
(bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar